(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Transformasi Kenduri, dari Tradisi Lokal ke Tradisi Islam di Jawa

Horizon

Masyarakat Jawa cukup akrab dengan berbagai macam ritual atau upacara adat. Hal tersebut merupakan bukti bahwa masyarakat Jawa adalah masyarakat yang religius. Dalam hal ini, setiap kegiatan yang dilaksanakan pasti tidak lupa membuat sesaji yang tersemat makna simbolik. Salah satu tradisi yang sampai saat ini masih cukup lestari dilaksanakan khususnya di Jawa Timur dan Jawa Tengah adalah kenduri.

  

Kenduri biasanya disebut juga upacara selametan atau doa bersama. Secara sederhana, kenduri dapat dipahami sebagai kegiatan atau aktivitas berkumpul yang dihadiri lebih dari dua orang untuk memanjatkan doa secara bersama. Doa yang dipanjatkan biasanya bertujuan untuk meminta keselamatan. Di Jawa Timur, kenduri biasanya dihadiri oleh tetangga, sanak keluarga, atau rekan kerja.

  

Eksistensi tradisi kenduri tidak bisa lepas begitu saja dengan akar historis kepercayaan-kepercayaan yang pernah dianut oleh masyarakat Jawa. Secara historis, kenduri sudah dikenal ketika masyarakat masih menganut kepercayaan Animisme-Dinamisne. Bahkan kepercayaan Animisme-Dinamisme ini merupakan unsur paling menonjol dalam pelaksanaan kenduri, terutama kenduri yang dilaksanakan oleh masyarakat kejawen.

  

Pada awalnya tradisi kenduri dipersembahkan kepada roh nenek moyang, kemudian setelah agama Hindu-Budha masuk, persembahan diperuntukkan juga kepada dewa-dewi yang ada dalam ajaran Hindu-Budha. Dalam hal ini, membuktikan bahwa unsur dan bentuk kenduri akan berubah seiring berjalannya waktu. Karena itu, keinginan untuk berinovasi membuat manusia mentransformasikan tradisi lama menjadi tradisi baru.

  

Bagi masyarakat Jawa, hidup ini penuh dengan upacara atau ritual, upacara-upacara itu berkaitan dengan lingkaran hidup manusia sejak masih berada dalam kandungan, balita, anak-anak, remaja, dewasa sampai dengan saat kematian dan setelahnya. Upacara atau ritual yang ada biasanya erat kaitannya dengan aktivitas kehidupan sehari-hari. Upacara atau ritual yang dilakukan dahulunya dilakukan dalam rangka untuk menangkal energi negatif.

  

Selain itu, zaman dahulu upacara dilakukan dengan mengadakan sesaji yang disajikan kepada roh-roh, makhluk halus, dan dewa-dewa. Dalam hal ini, upacara diharapkan untuk menjaga hidup senantiasa dalam keadaan selamat.

  

Setiap masyarakat memiliki suatu tradisi budaya yang berbeda dari tradisi budaya masyarakat lain. Kebudayaan merupakan suatu kumpulan yang terintegrasi dari cara-cara berlaku yang dimiliki bersama. Kebudayaan yang bersangkutan secara unik mencapai penyesuaian kepada lingkungan tertentu.

  

Sampai saat ini unsur-unsur dari kepercayaan Animisme-Dinamisme pengaruhnya masih mewarnai sendi-sendi kehidupan masyarakat, terutama dalam ritualitas kebudayaan. Hal tersebut dapat dilihat dari seremonial-seremonial budaya masyarakat Jawa yang masih menunjukkan kepercayaan terhadap adanya makhluk supranatural. Kepercayaan terhadap makhluk supranatural misalnya kepercayaan terhadap roh nenek moyang.


Baca Juga : Nasionalisme Sufistik dalam Tarekat

  

Dalam masyarakat Jawa Timur setidaknya mengenal beberapa jenis kenduri di antaranya sebagai berikut. Pertama, perkawinan, dalam pelaksanaan upacara perkawinan, masyarakat Jawa harus melalui setidaknya tujuh rangkaian di antaranya nontoni, melamar, piningset, pasang tarup, siraman dan midodareni, akad nikah dan panggih, ngabekten atau sungkem. Kedua, kehamilan, kenduri kehamilan biasanya dilakukan setiap usia kehamilan. Ketiga, kelahiran. Keempat, khitan, kenduri khitan setidaknya dihadiri oleh tetangga sekitar rumah. Kelima, kematian, pada kenduri kematian, biasanya diadakan kenduri geblak kemudian juga dilanjutkan selamatan 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, dan 1000 hari. Keenam, kenduri bersih desa atau sedekah bumi. Ketujuh, kenduri suran atau megengan.

  

Pada zaman dahulu, kenduri dilaksanakan dengan membuat tumpeng, lengkap dengan ingkung, serundeng, apem, pisang, dan lain sebagainya. Semua uborampe tersebut diletakkan di tengah-tengah kumpulan masyarakat yang sedang membaca doa. Berkat dalam kenduri lazimnya berisi nasi, lauk yang dilengkapi serundeng, apem, dan peyek teri. Semua unsur tersebut harus ada dalam sebuah berkatan kenduri model kuno.

  

Seiring perkembangan zaman, kemudian membawa konsekuensi bagi perubahan sosial, maka sistem religi yang akrab disebut kenduri juga mengalami pergeseran. Persegeran tersebut berada pada pemahaman masyarakat terhadap nilai atau makna dari tradisi yang ada, sebab pemahaman yang telah berbeda, kemudian menghasilkan wujud tradisi yang dilakukan juga berbeda. Pengalaman baru dan teknologi baru membuat manusia melakukan penyesuaian cara hidup dan kebiasaan yang baru.

  

Setelah Islam datang ke tanah Jawa, Islam kemudian memberikan warna baru pada seremonial-seremonial yang ada dalam masyarakat, di antaranya kenduri. Di dalam upacara kenduri ini yang pokok adalah pembacaan doa yang dipimpin oleh orang yang dipandang memiliki pengetahuan mengenai ilmu keislaman. Fungsi kenduri yang dahulunya sebagai salah satu bentuk ritual keagamaan yang sakral, kini berfungsi sebagai sarana untuk bershodaqoh serta menjaga hubungan baik dengan sesama anggota masyarakat.

  

Di masyarakat Jawa Timur, acara kenduri kini telah lazim berbentuk tidak lebih dari sebuah acara doa bersama dalam sebuah pengajian, yang nantinya dilanjutkan dengan makan bersama. Sehingga kenduri dalam Islam dapat diartikan sedekah, sebab adanya makanan yang dibagi-bagikan pada masyarakat.

  

Saat ini, banyak orang yang tidak lagi menghiraukan makna yang terkandung dari sesaji-sesaji yang harus disediakan. Kebanyakan masyarakat kini, demi manfaat praktis mengganti makanan-makanan yang penuh makna tersebut menjadi bahan makanan mentah (sembako). Dihilangkannya sesaji atau perlengkapan yang berbau Animisme-Dinamisme, Hindu-Budha yang ada dalam kenduri, menunjukkan bahwa ajaran agama Islam semakin dipahami secara murni oleh masyarakat saat ini.

  

Tradisi kenduri yang lengkap dengan sesaji kini lebih pada sekedar melestarikan budaya Jawa yang telah ada sejak lama, lantaran kebanyakan orang yang masih melakukan kenduri tidak tahu arti atau makna sesaji dan prosesi yang dilakukan. Secara garis besar, alasan masyarakat mulai mengganti model, bentuk, atau unsur-unsur yang ada dalam kenduri adalah kesadaran akan ajaran agama Islam.

  

Menurut mayoritas masyarakat Jawa Timur saat ini, kenduri merupakan budaya adat, bukan budaya agama. Dalam hal ini, masyarakat memahami bahwa dalam kenduri yang terpenting adalah do’a, bukan perlengkapan.

  

Suatu perubahan pasti akan memiliki dampak entah itu positif atau negatif, termasuk ketika melakukan tradisi kenduri. Perubahan bentuk kenduri dari bentuk lama yang sarat akan unsur kepercayaan lama menjadi bentuk baru yang lebih mengutamakan unsur ajaran agama Islam, menunjukkan bahwa perkembangan ajaran Islam dari waktu ke waktu semakin meningkat kualitas serapannya.

  

Dampak negatif dari terbentuknya adat kebiasaan baru dalam ritual kenduri adalah kemungkinan besar kenduri tidak lagi sesuai dengan tujuan utamanya, yakni sebagai sarana beribadah dan berdo’a memohon keselamatan serta bershodaqoh. Hal itu lantaran, adanya fenomena yang muncul di masyarakat, yakni kenduri sebagai ajang saling mengunggulkan diri melalui berkat atau makanan yang disajikan. Sehingga kemungkinan besar akan menimbulkan kecemburuan sosial bagi masyarakat sekitar yang ekonominya tergolong menengah ke bawah.

  

Pergeseran nilai-nilai tradisi kenduri di Jawa Timur terlihat pada berbagai hal dalam pelaksanaan kenduri sekarang ini. Pada zaman dahulu, kenduri secara lokal dimaknai sebagai sarana menjaga hubungan baik kepada penguasa alam. Sedangkan saat ini, kenduri dimaknai sebagai sarana bershodaqoh dan menjaga hubungan baik dengan masyarakat sekitar. Prosesi dan perlengkapan dalam tradisi kenduri yang penuh unsur-unsur kepercayaan lama kini lebih mengutamakan unsur dalam ajaran agama Islam.

  

Meskipun secara prosesi dan bentuk terdapat perubahan, namun sebagai masyarakat Jawa, tetap menjaga dengan baik kebudayaan dan nilai-nilai luhur dalam khazanah kebudayaan Jawa perlu juga dilestarikan, salah satunya melalui aktivitas kenduri.