(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Perubahan Kriminalitas dalam Hukum Fikih

Riset Agama

Tulisan berjudul “From Textuality to Universality: The Evolution of Hirabah Crimes in Islamic Jurisprudence” merupakan tulisan Moh Khasan. Artikel ini terbit di Journal of Islamic Studies “Al-Jami’ah” tahun 2021. Penelitian ini mengkritisi perubahan sistematis konsep kriminal (irābah) dalam hukum Islam dari pendekatan klasik hingga kontemporer. Penulis menggunakan analisis kualitatif yang fokus pada tiga hal mendasar yakni arah, kecenderungan dan hukuman. Tujuannya adalah menganalisis secara kritis terkait dengan interpretasi kejahatan irābah dalam fikih. Terdapat beberapa sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, definisi irābah: perspektif tekstual dan universal. Ketiga, formulasi baru kejahatan irābah. Keempat, irābah dan masalah pertanggung jawaban pidana. 

  

Pendahuluan

  

Konsep kriminalisasi irābah tidak jelas dalam menggambarkan pelanggaran hukum. Oleh sebab itu, hal ini memicu perdebatan di antara para ahli hukum. misalnya, dalam hal definisi. Hukum pidana Islam menafsirkan irābah sebagai jenis kejahatan yang berkaitan dengan mengambil milik orang lain dengan paksa dan terbuka. Selain itu, ulama klasik dan kontemporer mendefinisikan irābah secara berbeda. Ulama klasik mendefinisikan irābah secara tekstual dan cenderung konservatif yang menghasilkan definisi yang tidak jelas dan tidak masuk akal. Hal ini disebabkan batas irābah yang tumpeng tindih dengan jenis kriminalitas lainnya, misalnya pencurian, perampokan dan pemberontakan. 

  

Karakteristik kejahatan irābah adalah kolektivitas, sistematis, memiliki potensi konflik politik. Ciri tersebut sangat dekat dengan tren kejahatan pada zaman ini. Kasus pencurian sudah tidak lagi dilakukan dengan sendirian dan diam-diam, melainkan secara kolektif, terorganisir dan sistematis. Oleh sebab itu, beberapa penelitian sebelumnya memasukkan perampokan, terorisme, pemerkosaan dan perdagangan narkoba pada jenis kejahatan irābah. 

  

Definisi irābah: Perspektif Tekstual dan Universal 

  

Hukum pidana cenderung diatur menurut dengan sifat kejahatan, namun di bawah hukum Islam klasik dikategorikan menurut sifat dan sumbernya. Di dalam Islam kejahatan di bagi menjadi tiga kategori. Pertama, pelanggaran dan hukuman ditetapkan dalam al-Qur’an dan sunnah. Kedua, pelanggaran terhadap seseorang termasuk dalam cedera dan pembunuhan yang disengaja. Hal yang dianggap permasalahan penting harus diselesaikan, misalnya pembalasan (qiṣāṣ) dan kompensasi finansial (diyāt). Ketiga, pelanggaran yang tidak diatur dalam al-Qur’an atau sunnah yang hukumannya adalah diskresi (taʿzr). 

  

Irābah biasanya disamakan dengan qaṭ\'u al-ṭarīq, yakni sekelompok orang yang dianggap menimbulkan masalah, pertumpahan darah, perampasan kekayaan, kehormatan, ketertiban dan kekacauan di bumi. Pada mazhab Hanafi, irābah didefinisikan sebagai “serangan” terhadap pejalan kaki untuk tujuan mengambil properti/barang milik mereka dengan paksa, sehingga mereka tidak bisa melewati jalan dengan bebas. Mereka yang menghalangi jalan umum biasanya menggunakan senjata tertentu, seperti tongkat dan batu. Mazhab Maliki mendefinisikan agen irābah sebagai siapa pun yang mengacungkan senjata untuk menghalangi jalan bebas. Mereka biasanya membunuh, mengambil uang orang lain, dan melakukan korupsi. 

  

Mazhab Syafi’i mengidentifikasi pelaku irābah dalam kesamaan syarat, namun ditekankan bahwa pelaku adalah orang yang kompeten dalam hal menaklukkan orang lain dengan mengambil uang dan harta benda lainnya. Imam malik mendefinisikan bahwa irābah adalah mengambil harta menggunakan tipu muslihat/taktik baik dengan kekerasan atau tidak. Irābah juga dipahami sebagai tindakan kejahatan atau perusakan dengan menggunakan senjata/alat yang dilakukan manusia secara terbuka di mana saja baik dilakukan oleh satu/sekelompok orang tanpa memikirkan siapa korbannya. 


Baca Juga : Tips Mengatasi Rasa Bosan Anak Saat Belajar di Rumah

  

Sayyid Sabiq dalam tulisannya berjudul Fiqh Sunnah menyatakan bahwa irābah memiliki beberapa bentuk. Pertama, seseorang yang berniat mengambil harta secara terang-terangan dan mengintimidasi, namun mereka tidak mengambilnya dan tidak membunuhnya. Kedua, seseorang dengan niat mengambil harta secara terang-terangan, sehingga ia mendapatkannya tapi tidak membunuh. Ketiga, seseorang yang berniat mengambil harta benda, tapi tidak mengambilnya kemudian membunuh. Keempat, seseorang yang berniat mengambil harta dan berhasil dan pemiliknya dibunuh. 

  

Keunikan irābah terlihat dari ancaman hukuman dan latar belakang peraturan perundang-undangan. Irābah diancam dengan empat hukuman yang berbeda dan bervariasi, yakni dibunuh, disalib, potong tangan dengan kaki, serta diasingkan. 

  

Beberapa negara Islam melakukan inisiatif untuk memperluas makna irābah dengan menambahkannya dalam konstitusi mereka. Di Iran, ketentuan tentang pidana irābah dijelaskan dalam pasal 183 yakni “Setiap orang yang menggunakan senjata untuk menyebabkan teror dan ketakutan atau melanggar keamanan dan kebebasan publik dianggap sebagai mohareb dan korup di bumi (mofsed fel-arz). Selain itu juga dijelaskan dalam pasal 185 yang menyatakan “Jika seseorang bersenjata, yakni perampok di jalan dengan menggunakan senjata, mengganggu keamanan publik dan menyebabkan ketakutan dan teror maka dianggap sebagai mohareb

  

Formulasi Baru Kejahatan Irābah 

  

Terdapat beberapa kejahatan yang dianggap sebagai irābah. Pertama, terorisme. Beberapa ulama menyatakan bahwa definisi irābah tradisional harus diperluas sehingga mencakup tindakan terorisme. Hashim Kamali menyatakan bahwa terdapat beberapa alasan mengapa teroris masuk ke dalam irābah yakni keinginan menimbulkan ketakutan, teror dan ketidakamanan dalam masyarakat melalui penggunaan kekerasan dan sering kali bertujuan politik. 

  

Kedua, pemerkosaan. Ibn ‘Arabi meriwayatkan bahwa ada seseorang wanita yang diculik dan diperkosa. Ketika kasus dibawa ke pengadilan, beberapa orang mengklaim bahwa pemerkosaan bukan termasuk tindak pidana irābah. Ibn ‘Arabi menanggapinya dan menyatakan “Manusia biasanya tidak adakan berjuang untuk melindungi harta mereka jika hidupnya terancam, namun akan berjuang untuk melindungi harta mereka jika hidup mereka terancam, tapi akan berjuang untuk hal yang sama jika istrinya, anak perempuannya akan diperkosa atau jika kehormatannya direnggut.” Jelas bahwa ‘Arabi menganggap bahwa kehormatan lebih berharga daripada kekayaan, oleh sebab itu perlu mendapatkan perlindungan hukum yang layak. 

  

Ketiga, penyelundupan dan perdagangan narkoba. Penempatan narkoba ke dalam irābah pada dasarnya mengikuti sifat khamr yang memang mengandung bahan yang berbahaya. Sesuai dengan unsur khusus dalam irābah, yakni memerangi Tuhan dan Rasul serta membuat kerusakan di muka bumi. Jelas bahwa penyelundupan narkoba diduga melanggar dua unsur tersebut secara konkret. 

  

Irābah dan Masalah Pertanggung Jawaban Pidana 

  

Terdapat dua pendapat yang berbeda terkait perbedaan pelaku dalam irābah. Pertama, ulama yang berpendapat bahwa tidak ada yang perlu dibedakan antara pelaku utama dan pelaku pendukung, seperti yang diungkap kan oleh Abu Hanifah. Ia memberikan contoh, jika ada para perampok yang bersekongkol dan mereka melakukan pembunuhan sekaligus mengambil harta, maka status hukum bagi yang membantu tetap sama. Syaratnya, kelompok perampok harus semua laki-laki. Pendapat ini disetujui oleh Imam Malik, Imam Ahmad dan Zahiriyah. Abu Hanifah lebih lanjut menyatakan bahwa jika ada anggota perempuan dalam kelompok, maka tidak dikenakan hukuman. Kedua, ulama yang berpendapat bahwa ada perbedaan antara aktor utama dan pendukung, seperti yang diungkapkan oleh Imam Syafi’i. Ia memilih membedakan pelaku utama dan pelaku pendukung. Pelaku utama adalah mereka yang langsung melakukan irābah, sedangkan pelaku yang tidak ikut secara langsung, meskipun hadir dalam tempat kejadian tidak dianggap sebagai pelaku, melainkan hanya dianggap sebagai korban yang diancam. Imam Sayfi’I tidak membedakan antara pria dan wanita, sehingga semua hukuman irābah dijatuhkan pada semua pelaku irābah

  

Kesimpulan

  

Eskalasi kriminalitas semakin beragama dan berat, sehingga menjadi pusat perhatian global saat ini. Pembangunan dan kemajuan dunia berkontribusi pada perubahan pola dan tingkat kriminalitas. Alhasil, bukan hanya bentuk dan cara yang berubah melainkan berpengaruh pada akibat yang ditimbulkan. Kriminalitas menjadi semakin sistematis hingga mengarah pada kerusakan yang masif. Tulisan Moh. Khasan menyimpulkan tiga hal. Pertama, definisi kriminal berdasarkan unsur dan karakternya dapat meluas termasuk pada terorisme, pemerkosaan, perdagangan dan penyelundupan narkoba. Kedua, perlu adanya rekonstruksi terkait teori kriminalitas yang mempertimbangkan kepastian hukum dan hak di muka hukum. Ketiga, pelaku irābah pantas mendapatkan hukuman berat dan mempunyai efek pencegahan yang kuat seperti halnya dalam hukum Islam.