Saturday, August 1 2026

Eva Putriya Hasanah     Dunia maya Indonesia diramaikan oleh sebuah memoar yang viral di media sosial. Memoar itu berjudul Broken Strings: Kepingan Masa Muda yang Patah yang dipublikasikan secara gratis oleh penulisnya, Aurélie Moeremans. Di luar ekspektasi banyak orang, memoar ini bukan karya fiksi atau kisah kehidupan glamor selebritas—melainkan pengakuan pribadi yang kuat tentang pengalaman

Eva Putriya Hasanah     Dunia maya Indonesia diramaikan oleh sebuah memoar yang viral di media sosial. Memoar itu berjudul Broken Strings: Kepingan Masa Muda yang Patah yang dipublikasikan secara gratis oleh penulisnya, Aurélie Moeremans. Di luar ekspektasi banyak orang, memoar ini bukan karya fiksi atau kisah kehidupan glamor selebritas—melainkan pengakuan pribadi yang kuat tentang pengalaman

Eva Putriya Hasanah     Perkembangan kecerdasan buatan (artificial Intelligence/AI) semakin menunjukkan pengaruh besar dalam kehidupan masyarakat digital. Salah satu teknologi yang belakangan menjadi sorotan adalah Grok AI, chatbot berbasis AI yang terintegrasi langsung dengan platform X (sebelumnya Twitter). Alih-alih hanya menuai pujian atas kecanggihannya, Grok AI kini berada dalam kontroversi kontroversi setelah Kementerian Komunikasi dan

Kala saya berangkat ke SD Al Muslim, saya dikontak melalui pesan WhatsApp dari Radio Suara Surabaya untuk membahas tentang hasil penelitian yang dilakukan oleh Harvard University, Baylor University dan Gallup tentang hasil survey yang menyatakan bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang terbahagia. Mbak Widya mengontak saya untuk wawancara via online agar saya menjadi narasumber dalam

Artikel berjudul “Success strategy of female Ulama leaders to advance Salafiyah Islamic boarding school amid patriarchal resistance” merupakan karya Ahmad Fauzan, Lina Meilinawati Rahayu, Teddi Muhtadin, dan Hazbini. Tulisan ini terbit di Indonesian Journal of Islamic and Muslim Societies tahun 2025. Penelitian tersebut memaparkan strategi kesuksesan pemimpinan ulama perempuan (Nyai) dalam memajukan pesantren salafiyah di

Dalam hal membikin acara yang luar biasa,  Kementerian Agama adalah jagonya. Dalam beberapa even yang melibatkan Menteri, para pejabat dan ASN Kemenag dan undangan tokoh-tokoh agama di Indonesia, saya menyaksikan sebuah pagelaran acara yang full menggunakan teknologi digital dalam prosesinya. Acara yang dihelat dalam Tasyakuran Hari Amal Bhakti Kementerian Agama (HAB) ke 80 juga dipagelarkan

Era sekarang adalah era kompetisi. Sebuah era yang setiap individu harus berkompetisi agar bisa survive. Siapa yang ingin hidup, bahasa kasarnya, maka harus memiliki kemampuan untuk berkompetisi dengan manusia lainnya. Siapa yang kompetitif, maka dialah yang akan menguasai kehidupan. Sekarang bukanlah era menunggu takdir datang, atau menunggu nasib baik. Saya kira sudah bukan zamannya  kita

Di akhir tahun,  Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Ditjen Pendis) menyelenggarakan acara yang sangat monumental, yaitu acara Review and Design on Islamic Education  di Aula HM Rasyidi, Kantor Kementerian Agama, Jalan Thamrin Jakarta, 30/12/2025. Acara  yang dikemas sangat baik dengan kolaborasi music, drama, orasi ilmiah dan taushiyah yang sangat bergizi. Sungguh acara ini dipersiapkan dengan sangat

Lutfi Romadlon Mahasiswa program Doktoral Universitas Kiyahi Abdullah Faqih gresik    Ada satu gambaran tentang manusia yang—kalau kita jujur—sering kita rindukan, tapi jarang benar-benar kita rawat: manusia yang utuh. Benar bukan berarti sempurna tanpa cacat, melainkan seimbang. Seimbang antara intelektualitas dan emosionalitas. Antara daya pikir yang jernih dan daya rasa yang hidup. Antara kepala yang

Eva Putriya Hasanah     Pada dini hari Kamis, 1 Januari 2026, sejarah tercatat secara monumental di jantung Kota New York ketika Zohran Mamdani secara resmi dilantik sebagai Wali Kota ke 112, menandai sebuah era baru bagi kota terbesar di Amerika Serikat. Pelantikan ini bukan sekadar pergantian kepemimpinan biasa — ia menjadi wali kota pertama yang

Oleh: Dr. Fina Wardani, M.Pd    Liburan datang membawa jeda yang terasa istimewa dan momentum kultural bagi manusia untuk keluar sejenak dari rutinitas hidup yang selalu berulang. Kebersamaan keluarga, perjalanan, ibadah, perayaan, dan waktu luang yang ditawarkan saat liburan memberikan pengalaman emosional yang intens. Namun, tak sedikit orang yang justru merasa kosong dan sedih setelah

Sebuah acara yang menarik, 30/12/2025,  sebab  dihadiri oleh Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA., Menag, dan  tentu patut untuk diperhatikan terutama pembahasan  temanya  tentang ekoteologi, yang sekarang sedang menuai zamannya. Capaian kinerja atas gagasan Prof. Dr. Nasaruddin Umar MA., tersebut sudah melampaui ekspektasi, sebab sekarang sudah tidak lagi berbicara dalam tataran konsep tetapi sudah pada tahapan

1 12 13 14 15 16 205