Artikel berjudul “Integrating the Merdeka Campus Program Into Islamic Universities in Indonesia: A Study of Implementation and Impact on Islamic Sciences†yang ditulis oleh Juwaini Fuad Ramly, Syamsul Rijal, Cut Siska Safira, Hendra Kurniawan, Khairil Fazal. Tulisan ini terbit di Jurnal Ilmiah Islam Futura tahun 2025. Studi ini membahas penerapan Program Kampus Merdeka (MBKM) di
Eva Putriya Hasanah Baca jugaEmpat Pekerjaan yang Bakal Eksis di Era Covid-19 Hingga Tahun 2021 Di banyak keluarga dan lingkungan sosial, belajar memasak masih sering dipandang sebagai “wilayah†anak perempuan. Sejak kecil, anak perempuan kerap diarahkan membantu ibu di dapur, sementara anak laki-laki lebih sering dibebaskan dari aktivitas tersebut. Pola ini begitu mengakar hingga memasak
Ada yang sangat menarik dari ceramah dalam peringatan Isra’ dan Mi’raj yang diselenggarakan di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya oleh Ustaz Dr. Abdullah Sattar, M.Fil.I, Wakil Dekan III Fakultas Dakwah dan Komunikasi UINSA Surabaya. Ceramah tersebut terselenggara pada Hari Ahad, 18 Januari 2026, ba’da Isya. Hadir jamaah Ngaji Bahagia dari Masjid Al
Eva Putriya Hasanah Baca jugaEmpat Pekerjaan yang Bakal Eksis di Era Covid-19 Hingga Tahun 2021 Haq menjadi salah satu film berbahasa Hindi paling banyak ditonton di Netflix pada awal 2026. Pencapaian ini ditandai dengan pentingnya perjalanan kreatif sutradara Suparn S. Varma, yang dikenal konsisten menghadirkan cerita sosial dengan pendekatan tenang namun menggugah. Di tengah ekosistem OTT
Hari Selasa, 20/01/2025, merupakan hari yang sulit bagi saya, sebab ada dua acara yang datang secara bersamaan. Satu acara di UINSA dalam tajuk Bedah Buku “Pendidikan Tinggi Islam dalam Perspektif Sosiologi Pengetahuan,†karya saya, yang digelar oleh para dosen Muda pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi UINSA pada jam 09.00 WIB. Acara ini sudah dirancang lama,
Pidato Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA, Menag., tentang dependensi agama di hadapan negara saya kira menarik untuk dicermati. Di dalam pidatonya dinyatakan bahwa selayaknya agama berada di posisi netral dalam berhadapan dengan negara dan masyarakat. Makna netral bukan berarti tidak memihak akan tetapi melakukan pemihakan atas kebenaran dan kebaikan. Memberikan kontribusi pada pemerintah dalam meluruskan
Saya didapuk untuk menjadi penceramah di dalam acara kunjungan para anggota Jam’iyah Ngaji Qur’an, ibu-ibu keluarga besar UIN Sunan Ampel, di Semarang Jawa Tengah. Mereka berkunjung ke Rumah Ibu Prof. Dr. Zumrotul Mukaffa, MAg, tepatnya di Pondok Pesantren Taman Adiluhung Kenteng, Kelurahan Kalisegoro, Kecamatan Gunung Pati, Kota Semarang, Jawa Tengah. Pondok pesantren yang didirikan oleh
Menyambut pidato Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA, Menag, tentang identitas kebangsaan dan keberagamaan, maka saya ingin menuliskan rilis Lembaga Survey Indonesia (LSI) tentang survey akan hal tersebut. Ada sebuah survey lama, tentang identitas nasional, bangsa dan suku, yang dirilis oleh LSI tahun 2019, yang dilakukan dengan mengambil sampel sebesar 1.550 responden dengan margin error 2,5
Artikel berjudul “How Green is Green Islam? Religious Environmentalism and Public Policy in Indonesia†merupakan karya Frans Wijsen. Tulisan ini terbit di Studia Islamika tahun 2025. Penelitian tersebut mengkaji hubungan antara agama dan lingkungan hidup di Indonesia, terutama dalam konteks bagaimana agama dapat mempengaruhi etika lingkungan dan penerapannya dalam kebijakan publik. Wijsen memulai dengan mendalami
Selain fungsi kritik yang diperankan agama, sebagaimana peran Nabi atau Rasul, maka agama juga memiliki fungsi penting untuk membangun keteraturan social. Di dalam fungsi kritik, maka setiap Rasul diturunkan pada umatnya yang compang-camping kehidupannya dilihat dari perspektif moralitas kemanusiaan. Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa dan Nabi Muhammad datang kepada kaum
Artikel berjudul “Rethinking the Causes of Moral Decline from the Perspectives of the Bible and the Qur’an” merupakan karya Reda Abdelgalil. Tulisan ini terbit di Millah: Journal of Religious Studies tahun 2025. Penelitian tersebut mencoba mengeksplorasi penyebab utama kemerosotan moral pada manusia, sebagaimana disajikan dalam Alkitab dan al-Qur’an. Pendekatan komparatif tematik yang didukung analisis tekstual
Gagasan Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA tentang memfungsikan agama sebagai kritik social, saya kira perlu untuk dicermati. Agama secara historis menampilkan dirinya sebagai kritik atas kehidupan social yang terjadi pada saat agama tersebut dibawa oleh para utusan Tuhan. Jika kita pahami dari teks-teks yang membicarakan tentang kehadiran para Nabi selalu melakukan kritik atas kehidupan social
