Tentu bukan kebetulan kala saya hadir di dalam acara megengan, 15/02/2026, yang dilakukan oleh warga Dusun Semampir, Desa Sembungrejo, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban, yang kebanyakan adalah Jamaah Tahlil dan juga jamaah shalat di Mushalla Raudhatul Jannah di depan rumah. Saya hadir di sini bersama sahabat-sahabat, ibu-ibu dan remaja yang mengikuti acara megengan. Setiap orang membawa
Rasanya Emak Hj. Turmiatun masih hidup. Rasanya Emak masih duduk di kursi di depan rumah. Rasanya Emak masih tersenyum di kala saya datang menjenguknya. Sungguh itulah yang saya rasakan di saat saya kembali ke rumah Tuban, rumah yang menjadi saksi atas kehadiran Emak 85 tahun yang lalu. Rumah yang menjadi saksi atas semua kelakuan keberagamaan
Artikel berjudul “Educational Leadership In The Digital Era: Bridging Global Disparities With Inclusive Management Strategies†merupakan karya Dwi Mariyono, Muhammad Yunus, Junaidi, Nur Syam, dan Zobi Mazhabi. Tulisan ini terbit di EMAL (Educational Management Administration & Leadership) tahun 2026. Transformasi digital dalam dunia pendidikan semakin dipercepat oleh Revolusi Industri Keempat dan pandemi COVID-19. Perubahan ini
Artikel berjudul “Climate, Sustainability, and Future Generations: An Ecotheology for Indonesia’s Ummah of ‘Nonidentity’” merupakan karya Anna M. Gade. Tulisan ini terbit di Studia Islamika pada tahun 2025. Tujuannya adalah membahas hubungan antara perubahan iklim, keberlanjutan, dan moralitas antar-generasi dalam konteks Indonesia. Gade mengangkat konsep “generasi masa depan” yang menjadi isu utama dalam diskursus etika
Menjelang kehadiran Direktorat Jenderal Pesantren pada Kementerian Agama Republik Indonesia, maka Direktorat Pesantren pada Ditjen Pendidikan Islam telah melakukan banyak hal, di antaranya adalah mempersiapkan mengenai naskah akademik untuk memberikan ketegasan tentang pentingnya Ditjen Pesantren, sebagaimana Amanah UU No 18 Tahun 2019 tentang Pesantren. Ada tiga aspek yang harus diselenggarakan oleh Ditjen Pesantren yaitu: pendidikan
Menjelang kehadiran Direktorat Jenderal Pesantren pada Kementerian Agama Republik Indonesia, maka Direktorat Pesantren pada Ditjen Pendidikan Islam telah melakukan banyak hal, di antaranya adalah mempersiapkan mengenai naskah akademik untuk memberikan ketegasan tentang pentingnya Ditjen Pesantren, sebagaimana Amanah UU No 18 Tahun 2019 tentang Pesantren. Ada tiga aspek yang harus diselenggarakan oleh Ditjen Pesantren yaitu: pendidikan
Kiranya saya sudah banyak menulis artikel tentang sikap dan perilaku permissiveness atau sikap dan perilaku serba boleh yang dilakukan oleh masyarakat dunia dan tentu saja masyarakat Indonesia. Perhatian saya terhadap budaya permissive sudah jauh di masa lalu. Tulisan-tulisan saya diinspirasikan oleh pemikiran Prof. Koentjaraningrat tentang mentalitas Masyarakat Indonesia. Sebuah buku tipis yang diterbitkan pada
Eva Putriya Hasanah Baca jugaEmpat Pekerjaan yang Bakal Eksis di Era Covid-19 Hingga Tahun 2021Berhadapan dengan tradisi, Gen Z sering berada di posisi yang serba salah. Mau patuh sepenuhnya, rasanya berat—baik dari segi tenaga, biaya, maupun waktu. Mau menolak mentah-mentah, ada rasa sungkan dan takut dicap “ora njawaniâ€. Di ruang abu-abu itulah Lili dan
Saya menghadiri acara walimatul arusy yang diselenggarakan oleh Sestama BPJPH, Dr. Mohammad Aqil Irham, di Lampung tepatnya di Gedung Bagas Raya, Ahad 01/02/2026. Sebuah acara yang menarik, bukan hanya dari dekorasinya yang indah dan mewah, akan tetapi juga dihadiri banyak pejabat pusat dan daerah serta tokoh-tokoh masyarakat Lampung. Dr. Ahmad Haikal Hasan, Kepala Badan
Artikel berjudul “Rejection of Rohingya in Aceh: The Role of Ulama and Tolerance in Acehnese Society†merupakan karya Firdaus M. Yunus, Siti Ikramatoun, Taslim HM. Yasin, dan Robby Habiba Abror. Tulisan ini terbit di Jurnal Ilmiah Peuradeun tahun 2025. Artikel tersebut mengkaji perubahan sikap masyarakat Aceh terhadap pengungsi Rohingya, dari awalnya sikap solidaritas yang kuat,
Agama memiliki banyak fungsi tetapi yang sangat mengedepan adalah fungsi kritik social, menjaga keteraturan social dan menjaga kehidupan social dan lingkungan yang serasi dan seimbang. Di tengah perubahan social yang sedemikian cepat, maka terdapat banyak kejutan yang terjadi, misalnya social shock, cultural shock, technological shock dan tidak kalah penting adalah theological shock. Ini merupakan salah
Hari-hari ini sedang viral pernyataan Prof. Dr. Kamaruddin Amin, MA, Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, bahwa Kementerian Agama mendapatkan beban dalam menganggarkan kesejahteraan guru dalam pengangkatan guru yang dilakukan oleh Yayasan dan tidak melakukan koordinasi dengan Kemenag pada levelnya masing-masing. Prof. Kamaruddin menyatakan: “banyak guru yang diangkat oleh Yayasan tanpa sepengetahuan Kemenag, kemudian minta dibayar dan
