(Sumber : Nursyamcentre.com)

Faktor Pendorong Takwa (3) Mengingat Kematian

Daras Akhlak

Dengan mengharap rida Allah SWT dan ilmu yang bermanfaat dan berkah, mari sejenak kita membaca surah al-Fatihah kepada penulis kitab Taisir al-Khalaq, al-Syekh Hafidz Hasan al-Mas‘udi. Untuk beliau, al-Fatihah.

  

Urgensi Mengingat Kematian

  

Pada kesempatan kali ini —masih dalam pembahasan tentang beberapa faktor pendorong takwa— al-Syekh Hafidz menjelaskan:

  

Dan di antaranya (faktor pendorong takwa) adalah hendaknya ia selalu mengingat kematian. Karena sungguh, orang yang mengetahui-menyadari bahwa ia akan meninggal dunia, dan bahwa di hadapannya hanya ada (dua pilihan) surga atau neraka; niscaya hal itu akan mendorongnya untuk (bersegera melakukan) amal-amal saleh, sesuai dengan kemampuan/kesanggupannya.

  

Pada konteks ini, Imam Nawawi —di dalam kitabnya, Riyadh al-Shalihin— menyebutkan beberapa ayat yang secara eksplisit menjelaskan betapa pentingnya mengingat kematian. Di antaranya adalah sebagai berikut:

  

Setiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada Hari Kiamat sajalah disempurnakan pahala kamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke surga, maka sungguh dia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya. (Surah Ali ‘Imran [3]: 185)

  

Dan tidak satu jiwa (pun) yang dapat mengetahui apa yang akan diusahakannya besok. Dan tidak satu jiwa (pun) dapat mengetahui (kapan dan) di bumi mana dia akan mati. (Surah Luqman [31]: 34)

  

Maka apabila telah datang ajal mereka, mereka tidak dapat mengundurkan barang sesaat pun dan tidak (pula) memajukan(nya). (Surah al-A‘raf [7]: 35)


Baca Juga : Revolusi dan Budaya Wanita Mesir

  

Bahwa, “Tidak ada satu pun yang mengetahui, di belahan bumi manakah kelak ia akan dibaringkan? Apakah di lautan, daratan, dataran, atau (justru) di pegunungan?”, demikian kurang lebih komentar Qatadah, seorang ulama Tabi‘in kenamaan, terkait surah Luqman [31]: 34 di atas. Oleh karena itu, Rasulullah SAW pun mengingatkan:

  

Banyak-banyaklah kamu mengingat kejadian yang akan menghancurkan segala kelezatan. (H.R. al-Tirmidzi)

  

Segeralah beramal sebelum datangnya tujuh macam: apakah yang kamu nantikan selain kemiskinan yang melalaikan, atau kekayaan yang menyombongkan, atau penyakit yang merusak, atau tua yang melemahkan, atau mati yang menghabisi, atau kedatangan dajjal sejahat-jahat yang dinantikan, atau hari kiamat(?) Dan hari kiamat itu yang sangat pedih dan berbahaya. (H.R. al-Tirmidzi)

  

Perbanyaklah mengingat kematian, karena sungguh, mengingatnya itu mampu mendorongmu untuk meninggalkan segala sesuatu selainnya (H.R. Ibnu Abi al-Dunya). Yakni menyadarkan kita betapa remehnya kelezetan duniawi yang luput dari genggaman kita. Begitu juga sebaliknya, menyadarkan kita pula untuk bergegas melakukan kewajiban-kewajiban kita.

  

Selanjutnya, masih dalam konteks betapa pentingnya mengingat kematian, Allah SWT berfirman:

  

Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. (Surah al-Qashash [28]: 77)

  

Syekh Ihsan Jampes menjelaskan - dengan mengutip pendapat sebagian ulama - bahwa maksud ayat di atas adalah, “Carilah dunia yang telah Allah anugerahkan kepadamu, dengan cara menggunakannya untuk hal-hal yang bisa mengantarkan(mu) ke sana (negeri akhirat); dan janganlah lupa bahwa sesungguhnya kamu akan meninggalkan seluruh harta bendamu kecuali bagianmu, yang tidak lain adalah kain kafan.”

  


Baca Juga : Sosiologi Ritual Puasa dalam Islam

Keutamaan Mengingat Kematian

  

Pada uraian uraian di atas, sedikit banyak telah disinggung tentang hal ini. Bahwa dengan mengingat-ingat kematian, kita akan tergerak untuk bergegas melakukan ketaatan. Nah, di sini penulis berusaha sebisa mungkin menguraikan keutamaan-keutamaan itu secara lebih detail lagi. Di antaranya adalah sebagai berikut:

  

Pertama, bisa membersihkan dosa dan menzuhudkan diri. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW, “Perbanyaklah kalian mengingat kematian, karena sesungguhnya ia mampu membersihkan/menghapus dosa-dosa dan menzuhudkan (diri) di dunia. Jika kalian mengingatnya dalam keadaan kaya (berkecukupan), niscaya ia akan melahapnya (kekayaan itu, dalam arti menyadarkan diri untuk tidak terlena dengan kekayaan); dan jika kalian mengingatnya dalam keadaan fakir, niscaya ia akan membuatmu rida dengan kehidupanmu.” (Menurut al-Zabidi, sebagaimana dikutip oleh Syekh Ihsan Jampes, hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi al-Dunya)

  

Kedua, dikumpulkan bersama golongan syuhada’ (para syahid). Berkenaan dengan hal ini, Ummu al-Mu’minin ‘Aisyah RA pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, apakah ada orang yang dikumpulkan bersama (golongan) para syahid?” Beliau menjawab, “Iya, ada. Yaitu orang yang selalu mengingat-ingat kematian, di pagi dan malam hari, sebanyak 20 kali.” (Menurut al-Zabidi, sebagaimana dikutip oleh Syekh Ihsan Jampes, hadis ini diriwayatkan oleh al-Thabrani di dalam al-Awsath)

  

Ketiga, orang yang banyak mengingat kematian adalah orang cerdas. Hal ini merujuk pada sebuah hadis yang diceritakan oleh ‘Abdullah bin ‘Umar RA. Beliau berkata, “(Pada suatu hari) saya bersama Rasulullah SAW, tiba-tiba seorang lelaki dari golongan Anshar datang. Ia memberi salam kepada Nabi SAW, kemudian bertanya,‘Wahai Rasulullah, orang mukmin yang bagaimanakah yang paling utama/mulia?’ Beliau menjawab, ‘Yang paling baik akhlaknya/budi pekertinya.’ Lelaki itu bertanya lagi, ‘Orang mukmin yang bagaimanakah yang paling cerdas?’ Beliau menjawab, ‘Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik persiapannya untuk menghadapi (kehidupan) setelah kematian. Mereka itu lah orang-orang yang cerdas.’” (H.R. Ibnu Majah)

  

Keempat, dianugerahi 3 kemuliaan. Sebagaimana dijelaskan oleh al-Samarqandi, dengan mengutip sebuah keterangan dari Abu Hamid al-Lafaf, bahwa orang yang sering mengingat kematian itu akan dimuliakan dengan 3 hal, yakni bersegera taubat (ta‘jil al-taubah), rela menerima makanan apa adanya (qana‘at al-qut) dan bersemangat/rajin dalam beribadah (nasyath al-‘ibadah).

  

Kelima, perkara dunia dan seisinya menjadi remeh baginya. Hal ini merujuk pada perkataan al-Hasan, “Barang siapa yang selalu menghadirkan ingatan tentang kematian, niscaya dunia akan hina di sisinya, dan semua yang ada di dalamnya terasa ringan/remeh baginya.”

  

Tentu masih banyak keutamaan-keutamaan lain dari mengingat kematian. Tetapi, 5 keutamaan di atas “agaknya” cukup sebagai motivasi bagi kita semua. Pada akhirnya, sebagai closing statement, penulis menukil dawuh-nya al-Samarqandi di bawah ini:


Baca Juga : Wacana Sekular dan Muslim dalam Perspektif Hibrid

  

Beruntunglah orang yang diberi rezeki “pemahaman” oleh Allah, disadarkan dari kelalaian, dan diberi taufik untuk dapat merenungi perihal akhir hayatnya. Maka, kita memohon kepada Allah SWT, semoga Dia menjadikan akhir hayatnya kita dalam kebaikan dan disertai bisyarah (kabar gembira). Karena sungguh, bagi seorang mukmin, terdapat bisyarah dari Allah SWT tatkala kematiannya. (Allahumma aamin)

  

Demikian, kajian kitab Taisir al-Khallaq pada kesempatan kali ini. Semoga apa yang telah kita pelajari menjadi ilmu yang bermanfaat dan berkah, dan bisa kita lanjutkan pada kesempatan-kesempatan berikutnya, wa shalla Allahu ‘ala Sayyidina Muhammad al-Musthafa.

  

Referensi:

  

Abi Zakariyya Yahya al-Nawawi, Riyadh al-Shalihin min Kalam Sayyid al-Mursalin (Surabaya: Dar al-‘Ilm, t.t.), 285-288.

  

Jalaluddin al-Suyuthi, al-Durr al-Mantsur fi al-Tafsir al-Ma’tsur (Kairo: Markaz Hijr li al-Buhuts wa al-Dirasat al-‘Arabiyyah wa al-Islamiyyah, 2003), vol. 11, 663.

  

Salim Bahreisy, Tarjamah Riadhus Shalihin (Bandung: Alma‘arif, 1986), vol. 1, 482.

  

Muhammad ‘Abdur Ra’uf al-Munawi, Faydh al-Qadir Syarh al-Jami‘ al-Shagir (Beirut: Dar al-Ma‘rifah, 1972), vol. 2, 84.

  

Ihsan Muhammad Dahlan, Siraj al-Thalibin: Syarah ‘ala Minhaj al-‘Abidin ila Jannat Rabb al-‘Alamin (Beirut: Dar al-Fikr, 1997), vol. 1, 427-429.

  

Abi ‘Abdillah Muhammad bin Yazid bin Majah al-Qazwini, Sunan Ibni Majah (Riyadh: Bayt al-Afkar al-Dawliyyah, t.t.), 459.

  

Nashr bin Muhammad bin Ibrahim al-Samarqandi, Tanbih al-Ghafilin (Indonesia: al-Haramain, t.t.), 10.