Di dalam acara Zoom Meeting di Universitas Islam Negeri Imam Bonjol, Padang, 31/10/2025, saya tekankan bahwa pendidikan tinggi harus menghasilkan sarjana yang thinkingfull bukan sarjana copy paste atau parafraser. Hal ini diindikasikan oleh realitas social, bahwa ada mahasiswa atau bahkan dosen yang melakukan kerja akademis dengan memanfaatkan artificial intelligent (AI) secara utuh, sehingga karya yang
Penggunaan Artificial Intelligent sebagai instrumen untuk menemukan atas jawaban-jawaban akademis tentu sudah bukan barang asing. Bagi dosen dan mahasiswa yang sedang melakukan penelitian, menulis artikel untuk jurnal atau menulis buku, maka salah satu pirantinya adalah aplikasi ChatGPT, Gemini dan lain-lain. Di dalam acara yang diselenggarakan oleh Program Pascasarjana UIN Imam Bonjol Padang, saya membahas
Artikel berjudul “Conservative-Political Global Islamic Economy Movement, Face of Entrepreneurship Constructivism of The Indonesian Hijra Community†merupakan karya Aang Kunaifi, Burhan Djamaluddin, Ika Yunia Fauzia, Iskandar Ritonga, Nurhayati, Nur Syam, Tika Widiastuti, dan Muhamad Ahsan. Tulisan tersebut terbit di IQTISHODUNA: Jurnal Ekonomi Islam tahun 2025. Penelitian tersebut menelaah konstruksi kewirausahaan dalam komunitas hijrah di Indonesia
Eva Putriya Hasanah Di era ketika semua orang bisa berbicara apa saja di media sosial, Tiongkok kini mengambil langkah berbeda. Negara tersebut baru saja menerapkan kebijakan yang mewajibkan para influencer atau pencipta konten memiliki ijazah atau sertifikat resmi jika ingin membahas topik-topik profesional seperti hukum, kesehatan, keuangan, pendidikan, dan teknologi. Baca jugaEmpat Pekerjaan yang
Sungguh tepat tema Hari Santri Nasional 2025 yang berbunyi: “Bakti Santri Untuk Negeriâ€. Tema ini berpesan bagi semua masyarakat Indonesia, bahwa santri memiliki peran yang sangat signifikan di dalam dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara. Santri memiliki kontribusi yang signifikan semenjak pra kemerdekaan sampai pasca kemerdekaan, bahkan hingga era pembangunan masyarakat dan bangsa Indonesia dewasa ini.
Acara meeting antara Tim Penasihat Ahli Menteri Agama dengan pejabat dalam Jabatan Pimpinan Tinggi Utama dan Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama berlangsung menarik. Dan di antara yang dibicarakan adalah mengenai Pendidikan Agama dan Keagamaan dan Bimbingan Masyarakat Agama-Agama. Di dalam artikel ini akan diulas tentang program dan kegiatan para Dirjen, mulai Dirjen Bimas Islam, Prof. Dr.
Hingga dewasa ini masih terdapat dualisme di dalam memahami ekonomi dalam perspektif Islam, yaitu labelling Ilmu Ekonomi Islam dan Ilmu Ekonomi Syariah. Perdebatan ini saya sebut sebagai dualisme sebab belum ada tanda-tanda untuk mempertemukan keduanya dan menyepakati mana yang dianggap lebih afdhal. Kalau dualitas, maka ada peluang untuk menyatukan dan ketemu. Bisa jadi antara yang
Artikel berjudul “Purification, Spiritualism, and Reform: Muhammadiyah’s Reception of Neo-Sufism†merupakan karya Hasnan Bachtiar, Moh. Nurhakim, dan Fathor Rohim. Tulisan tersebut diterbitkan dalam Teosofi: Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam tahun 2025. Penelitian tersebut mengkaji keterlibatan Muhammadiyah dalam wacana tasawuf, khususnya bagaimana organisasi ini menerima, menolak, dan merekonstruksi elemen-elemen sufistik dalam kerangka modernisme Islam. Melalui pendekatan
Pertemuan yang berkualitas dilakukan oleh para pejabat Kemenag dengan Tim Penasihat Ahli Menteri Agama yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, pada 24 Oktober 2025. Tidak tanggung-tanggung acara ini diselenggarakan di Hotel Aston Jakarta dengan menghadirkan seluruh Tim Penasihat Ahli dengan Sekjen Kemenag, para Dirjen, Kepala BMBPSDM, Irjen dan Pejabat dalam Jabatan Pimpinan Tinggi Madya
Oleh Eva Putriya Hasanah Sejarah peradaban manusia tidak selalu bersinar terang. Ada masa ketika berpikir rasional dianggap berbahaya, bertanya berarti melawan Tuhan, dan mencari penjelasan ilmiah bisa mengakhiri hukuman mati. Masa itu dikenal sebagai Abad Kegelapan (Abad Kegelapan) — periode antara runtuhnya kekaisaran Romawi Barat pada abad ke-5 hingga sekitar abad ke-10 Masehi, ketika
Tulisan berjudul “Communicative Functions Used in Pope’s 2021 Speech in Iraq: A Critical Discourse Analysis of Religious Pluralism†merupakan karya Abeer Khalaf Hussein, Ali Hussein Hazem, dan Dina Fahmi Kamil. Artikel ini terbit dalam Jurnal Ilmiah Islam Futura Vol. 25 No. 1 Tahun 2025. Secara umum, artikel ini membahas fungsi-fungsi komunikatif dalam pidato Paus Fransiskus
Saya merasa mendapatkan kehormatan untuk menghadiri acara Puncak Hari Santri Nasional 2025, yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Islam pada Kementerian Agama dan selaku penyelenggara khusus adalah Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren. Acara yang megah diselenggarakan di Gedung Sasana Budaya Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Acara yang Khidmah tetapi semarak. Acara dipadukan antara
